Right? Yes!
Life as pedaling a bicycle. Sometimes happy and crying. Sometimes fighting and down. Sometimes colorfull and grey. But behind it, we must always fight and thanks to God for this life :)
“Katakanlah : “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib kecuali Allah”, dan mereka tidak engetahui bila mereka akan dibangkitkan” (An-Naml: 65) Menikah merupakan keputusan terbesar seorang manusia. Dalam perkara ini, tidak bisa dengan keinginan duniawi saja namun harus dengan ilmu dan melibatkan Allah disetiap langkahnya. Sesungguhnya, hanya Allah yang tahu perkara ghaib di depan. 'Manusia hanya dapat berencana dan berusaha, namun takdir tetaplah Allah yang tahu', mungkin terdengar klasik namun hal tersebut sungguh benar adanya.
“ Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan .” (QS. Al Insyirah: 6) Layaknya malam yang mengundang semua yang dipikirkan, maka pagi penghapus segala kelelahan tadi malam. Betapa baiknya Allah menciptakan pagi hari. Tarikan nafas yang nyata, 'saya hidup hari ini'. Yang terlalu sering manusia melupakan hal itu. Sungguh, Allah Maha Baik. Namun, mengapa kamu masih mengingkarinya?
Malam dan Pantai. Sekedar membayangkan saja sudah membuat hati terkoyak terbawa angin imajinasi. Berjalan diantara kekayuan dan pasir disela jari jemari. Angin yang tak pernah ragu untuk menusuk kulit menambah dingin yang sadis. Berjalan menunduk untuk mengurangi terpaan angin dan menengadah ketika menghentikan langkah. Aku tak sendiri. Ombak, angin, bintang, rembulan dan semilir suara kapal yang terkadang terdengar cukup untuk menemani hati yang mengambang penuh kesakitan. Biarkan dahulu aku menetap di pantai sebelum kembali kelautan. Tolong gulung kembali ketika pagi memeluk bumi. “karena ombak tak pernah berencana untuk menetap di pantai, ia selalu kembali bergulung ke lautan” ― Jia Effendie , Perkara Mengirim Senja Aku hanya berjalan sebentar, karna malam dan pantai hal yang paling menyejukan ketika susana tenang terasa hilang. Berjalan disela pasir halus yang memeluk jemari kaki, angin yang kuhirup lekat hingga kuhembuskan perlahan, mata yang berb...
Comments