Tentang yang Pahit : Pertemanan

Belakangan ini sering kembali kepada masa pahit masa lalu. Yang sudah dilewati kesekian kali. Bedanya, kali ini lebih kuat dan sudah tahu apa yang harus kupetik buahnya dan yang mana yang harus kubiarkan. Tentang orang-orang yang datang dan pergi. Walaupun untuk mengingatnya masih sering menteskan air mata.

Orang-orang, datang dan pergi dalam hidup kita; tapi yang paling penting, adalah yang menetap bersama kita. Jangan terlalu memikirkan yang akan datang; pun apalagi, jangan habiskan waktu memikirkan yang telah pergi.
- Tere Liye -



Sejak menduduki bangku SD, aku diberi hal-hal yang menyakitkan tentang pertemanan. Yang mungkin anak kecil di jaman itu tidak akan tahu rasanya. Yang mungkin perjalanan anak kecil seusia itu dipenuhi main karet bersama, tertawa hingga terpingkal pingkal, bahagia dibelikan apapun yang disukai, mendapat teman sebangku yang diinginkan, mendapat posisi tempat duduk yang orang tuanya pilih yang pagi-pagi rela datang untuk berebut tempat duduk, punya teman bareng untuk datang dan pulang ke sekolah dan teman makan bersama saat istirahat. Akupun pernah diberi seorang sahabat untuk bermain masak-masakan bersama, main karet, hingga main ke rumahnya kesekian kali. Hingga pada akhirnya seorang sahabat itu pergi dan diambil temanku bermain. Saat aku meminta untuk bergabung, mereka menolak dan menghiraukan aku yang sedang bingung "Kenapa ya, perasaan gak salah apa-apa". Pun aku minta maaf saja mau salah ataupun benar. Masa polos waktu SD ditinggal sahabat yang rasanya bingung apa rasanya. Mungkin ditinggal itu akan kembali. Namun, hal ini beda. Seseorang yang aku anggap sebagai sahabat dihasut temanku yang lain sehingga pergi begitu saja. Tetapi pada akhirnya, kebenaran dan ketulusan terungkap setelah sekian hari minggu dan bulan. Pada akhirnya, Allah tak pernah tidur untuk seorang hamba yang tak bersalah. Dia kembali. Tapi, aku tak bisa membuka jalan selebar awal. Cukuplah aku yang tahu.
Pada masa itupun, aku tidak pernah jago Matematika apalagi soal cerita. Menurutku, soal cerita teralalu berbelit-belit atau mungkin aku saja yang "bebel". Jadi, aku sering meminta untuk diajarkan tugas. Sampai suatu ketika, aku diajari oleh seorang teman yang termasuk pintar dikelas. Alhamdulillah tugasku selesai dan aku mengerti jalan keluar tugas tersebut. Lalu, aku berpapasan dengan seorang teman yang termasuk pintar juga menyindirku "Katanya, ranking 4 ko nyontek". Kata-kata itu sampai kuingat hingga sekarang. "Loh orang minta ajari ko malah disebut nyontek, dianya aja yang gak tahu aku tadi minta ajari bukan mencontek". Namun kubiarkan saja dia bersungut seperti itu. Saat guru memasuki kelas dan mulai membahas tugas tersebut, hasil tugasku bernilai "Nol" dan nyatanya temanku yang tadi aku meminta untuk ajari tugas tersebut mendapat nilai "Seratus". Waw sungguh luar biasa, bagaimana hasil yang sama dengan nilai yang berbeda. Setelah kutanya, ternyata jawaban dan cara yang dia ajarkan kepadaku itu salah. Dan dia mengganti jawaban dengan melihat temannya yang lebih pintar. Dari masa SD-ku lah, aku tidak pernah percaya dengan suatu persahabatan yang kokoh. Suatu kejadian anak kecil yang mungkin tak banyak yang mengerti soal ini.

“Meski semua hal itu adalah kenangan menyakitkan, kita baru merasa kehilangan setelah sesuatu itu telah benar-benar pergi, tidak akan mungkin kembali lagi.” 
― Tere LiyePulang -


Semua orang tahu bahwa angin berhembus terkadang menenangkan terkadang menjadi menyeramkan hingga bisa menjadi sebuah bencana. Masa SDku terulang lagi di SMA. Perjalanan pertemanan yang berkali-kali tertusuk hingga aku lebih nyaman berteman dengan laki-laki dibanding perempuan. Mereka lebih dapat diandalkan dan bisa melindungi walaupun bahasan dan perbincangan mereka sering konyol dan receh. Ditinggal hampir semua teman sekelas karna hasutan satu orang teman, bak ditiup angin yang menimbulkan bencana yang menyakitkan. Padahal mereka tahu, aku tak berbuat apa apa. Dan ntah apa yang ia hasut dan ceritakan. Aku tidak peduli. Pun ketika air mata tak sanggup dibendung, seorang sahabatku berkata "Jangan nangis, kalo nangis berarti dia menang. Karna tujuan dia buat bikin lo sakit". Menusuk. Tapi benar. Sudah biarkan saja, hingga pada akhirnya Allah maha adil dan maha penyayang membiarkan kebenaran mengalir. Yang menjauh, mendekat kembali. Kenyataannya, rasa sabar yang begitu luas tak pernah sia-sia. Membiarkan orang-orang yang tidak mempercayaimu, bukanlah hal yang salah. Mereka berhak memilih. Dan kita tetaplah menjadi yang baik untuk mereka. Allah tidak pernah tidur. Allah maha membuktikan kebenaran.
Hingga perjalanan sudah menginjak 23 tahun, sekian kali tertusuk kejadian pahit pertemanan menjadi hal yang patut diambil pelajaran yang bijaksana. Sakit. Aku tahu memang tak pernah hilang rasa sakit walaupun sekian kali, tapi percayalah bahwa kebaikan akan selalu berujung dengan kebaikan yang adil. Aku memang paling suka dengan pertemanan yang saling menasehati, karna menandakan "sayang" untuk lebih mendekat kepadaNya. Dan mencoba berusaha berjalan lurus walau berkelok, agar bertemu di surga kelak dengan teman dan sahabat. Semakin kesini, semakin tahu berbagai jenis teman yang akan setia mana yang tidak. Alhamdulillah, aku pernah berjalan di masa lalu pertemanan yang pahit hingga bisa berdiri sampai sekarang. Bisa membedakan mana yang baik dan buruk sebuah pertemanan. Walau masih sering meneteskan air mata ketika tak bisa menggenggam teman-teman yang berharga. Aku tetap memeluk rasa pahit itu :')

“Hidup ini adalah perjalanan panjang. Kumpulan dari hari-hari. Di salah satu hari itu, di hari yang sangat spesial, kita dilahirkan. Kita menangis kencang saat menghirup udara pertama kali. Di salah satu hari lainnya, kita belajar tengkurap, belajar merangkak, untuk kemudian berjalan. Di salah satu hari berikutnya kita bisa mengendarai sepeda, masuk sekolah pertama kali, semua serba pertama kali. Dan kini kita penuh dengan kenangan masa kecil yang indah, seperti matahari terbit.
Lantas hari-hari melesat cepat. Siang beranjak datang dan kita tumbuh menjadi dewasa, besar. Mulai menemui pahit kehidupan. Maka, di salah satu hari itu, kita tiba-tiba tergugu sedih karena kegagalan atau kehilangan. Di salah satu hari berikutnya, kita tertikam sesak, tersungkur terluka, berharap hari segera berlalu. Hari-hari buruk mulai datang. Dan kita tidak pernah tahu kapan dia akan tiba mengetuk pintu. Kemarin kita masih tertawa, untuk besok lusa tergugu menangis. Kemarin kita masih berbahagia dengan banyak hal, untuk besok lusa terjatuh, dipukul telak oleh kehidupan. Hari-hari menyakitkan.
Tapi sungguh, jangan dilawan semua hari-hari menyakitkan itu. Jangan pernah kau lawan. Karena kau pasti kalah. Mau semuak apa pun kau dengan hari-hari itu, matahari akan tetap terbit indah seperti yang kita lihat sekarang. Mau sejijik apa pun kau dengan hari-hari itu, matahari akan tetap memenuhi janjinya, terbit dan terbit lagi tanpa peduli apa perasaanmu. Kau keliru sekali jika berusaha melawannya, membencinya, itu tidak pernah menyelesaikan masalah.
Peluklah semuanya. Peluk erat-erat. Dekap seluruh kebencian itu. Hanya itu cara agar hatimu damai. Semua pertanyaan, semua keraguan, semua kecemasan, semua kenangan masa lalu, peluklah mereka erat-erat. Tidak perlu disesali, tidak perlu membenci, buat apa? Bukankah kita selalu bisa melihat hari yang indah meski di hari terburuk sekalipun?” 





0 komentar:


up