Malam dan Pantai

Malam dan Pantai. Sekedar membayangkan saja sudah membuat hati terkoyak terbawa angin imajinasi. Berjalan diantara kekayuan dan pasir disela jari jemari. Angin yang tak pernah ragu untuk menusuk kulit menambah dingin yang sadis. Berjalan menunduk untuk mengurangi terpaan angin dan menengadah ketika menghentikan langkah. Aku tak sendiri. Ombak, angin, bintang, rembulan dan semilir suara kapal yang terkadang terdengar cukup untuk menemani hati yang mengambang penuh kesakitan. Biarkan dahulu aku menetap di pantai sebelum kembali kelautan. Tolong gulung kembali ketika pagi memeluk bumi.

“karena ombak tak pernah berencana untuk menetap di pantai, ia selalu kembali bergulung ke lautan” 



Aku hanya berjalan sebentar, karna malam dan pantai hal yang paling menyejukan ketika susana tenang terasa hilang. Berjalan disela pasir halus yang memeluk jemari kaki, angin yang kuhirup lekat hingga kuhembuskan perlahan, mata yang berbinar karna ketenangan ini Dia yang membuat. Kesunyian malam yang tak pernah terbayar ketika esok tiba. Sengguk tangis pun dapat terdengar di sebrang pulau sana. Cukup mata ini berbinar, tolong jangan menjerit tolong jangan berteriak. Kenyataannya hati ini kuat dan hanya ingin mendengar serta merasakan lirih-lirih pantai sebelum dipeluk kembali oleh ombak.

Ia tidak ingin menjerit-jerit berteriak-teriak mengamuk memecahkan cermin membakar tempat tidur. Ia hanya ingin menangis lirih saja sambil berjalan sendiri dalam hujan rintik-rintik di lorong sepi pada suatu pagi.” 


Dalam langkah yang tersela pasir, aku berhenti sejenak. Kutegakan kepala lalu melihat kepada singgasana langit malam, ternyata titik titik bintang dilangit senantiasa menemani seperti layaknya mengerti akan suasana ini. Setidaknya mereka ku sapa dengan senyuman walau mataku sambil berbinar. Aku merasa seperti diberi cahaya walau setitik. Kupeluk angin dengan membentangkan kedua tangan yang sedari menjadi beban pundak menjadi berat, penglihatan semakin gelap ketika pejaman mata tertutup lekat dan kuhirup dalam dalam angin pantai yang menusuk. Setidaknya aku bisa tersenyum dalam kesakitan yang sadis. Setidaknya menyentuh imajinasi alam dapat membuat bersyukur akan kuasaNya. Dan aku semakin yakin, aku tak pernah sendiri. Peluk kembali aku kelautan biru dengan bebas. Maaf karna langkahku dan hatiku bergemuruh di pantai selama beberapa jam. Aku tak pernah meninggalkanmu. Biru.

"Percakapan Dua Ranting"

kalau pernah kamu bertemu dulu, apa yang 
kau inginkan nanti? sepi. kalau nanti kau 
dapatkan cinta, bagaimana kau tempatkan 
waktu? sendiri. bila hari tak lagi berani 
munculkan diri, dan kau tinggal untuk 
menanti? cari. andai bumi sembunyi saat 
kau berlari? mimpi. lalu malam menyer-
gapmu dalam pandang tiada tepi? hati.
baik...aku tak lagi memberimu mungkin? 
kecuali. baik..baik, aku hanya akan menya-
pamu tanpa kecuali? mungkin. dan jika 
tetap seperti itu, embun takkan jatuh dari 
kalbumu? sampai. akankah kau patahkan 
tubuhmu hingga musim tiada berganti? 
mari. lalu kau tumbuhkan bunga tanpa 
kelopak tanpa daun berhelai-helai? kemari.
juga kau benamkan yang lain dalam jurang 
di matamu? aku. katakan bahwa kau mene-
rimamu seperti aku memberimu?...
kau? ya. kau?...aku.


Besancon, oktober sebelas 1997.” 
― Radhar Panca DahanaLalu Batu: Antologi Puisi




0 komentar:


up