Tentang yang Pahit : Pertemanan

Belakangan ini sering kembali kepada masa pahit masa lalu. Yang sudah dilewati kesekian kali. Bedanya, kali ini lebih kuat dan sudah tahu apa yang harus kupetik buahnya dan yang mana yang harus kubiarkan. Tentang orang-orang yang datang dan pergi. Walaupun untuk mengingatnya masih sering menteskan air mata.

Orang-orang, datang dan pergi dalam hidup kita; tapi yang paling penting, adalah yang menetap bersama kita. Jangan terlalu memikirkan yang akan datang; pun apalagi, jangan habiskan waktu memikirkan yang telah pergi.
- Tere Liye -

Karna Kau

"Aku kira, setiap penulis yang jujur, akhir-kelaknya akan kecewa dan dikecewakan." 



Langkah ini pernah kecewa. Beberapa kali. Kau tahu langkah mana yang paling menyakitkan? Tertusuk prinsip dan tertusuk sesuatu yang paling kubenci. Lebih baik menunggu sekian tahun dibanding langkah penuh kebencian. Ditambah kau tak menoleh salah sedikitpun. Kemungkinan terlalu banyak tertawa hingga hati mati atau hal itu yang membuat keras hati. Yang mana? Cukup.

Malam dan Pantai

Malam dan Pantai. Sekedar membayangkan saja sudah membuat hati terkoyak terbawa angin imajinasi. Berjalan diantara kekayuan dan pasir disela jari jemari. Angin yang tak pernah ragu untuk menusuk kulit menambah dingin yang sadis. Berjalan menunduk untuk mengurangi terpaan angin dan menengadah ketika menghentikan langkah. Aku tak sendiri. Ombak, angin, bintang, rembulan dan semilir suara kapal yang terkadang terdengar cukup untuk menemani hati yang mengambang penuh kesakitan. Biarkan dahulu aku menetap di pantai sebelum kembali kelautan. Tolong gulung kembali ketika pagi memeluk bumi.

“karena ombak tak pernah berencana untuk menetap di pantai, ia selalu kembali bergulung ke lautan” 



Aku hanya berjalan sebentar, karna malam dan pantai hal yang paling menyejukan ketika susana tenang terasa hilang. Berjalan disela pasir halus yang memeluk jemari kaki, angin yang kuhirup lekat hingga kuhembuskan perlahan, mata yang berbinar karna ketenangan ini Dia yang membuat. Kesunyian malam yang tak pernah terbayar ketika esok tiba. Sengguk tangis pun dapat terdengar di sebrang pulau sana. Cukup mata ini berbinar, tolong jangan menjerit tolong jangan berteriak. Kenyataannya hati ini kuat dan hanya ingin mendengar serta merasakan lirih-lirih pantai sebelum dipeluk kembali oleh ombak.

Ia tidak ingin menjerit-jerit berteriak-teriak mengamuk memecahkan cermin membakar tempat tidur. Ia hanya ingin menangis lirih saja sambil berjalan sendiri dalam hujan rintik-rintik di lorong sepi pada suatu pagi.” 


up