Banyak penulis bilang, menulis itu cara penyampaian perasaan melalui kata selain berbicara lantang. Karna kalbumu tak selalu dapat teriak melalui mulut. Ketika mulut tak bisa bicara, biarlah uraian kata yang bicara.

“Menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa—suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah di mana. Cara itulah yang bermacam-macam dan di sanalah harga kreativitas ditimbang-timbang.” 





Nyatanya memang sulit melakolis dengan sanguinis. Anak pertama dengan anak ketiga. Sering sesak karna melankolis yang punya segudang perasaan bapernya tidak bisa selalu diungkapkan dengan kata. Hanya bisa diam sampai sesak. Yang aku lakukan biasanya hanya menulis ntah sepenggal puisi, kata dalam sosial media yang tersirat atau kulantunkan warna warna di dalam design. Sementara sanguinis yang tidak mau ribet, apa yang dia rasakan bisa terungkap begitu saja tanpa memikirkan yang dia katakan, banyak mengutamakan teman, mengkode kode yang terkadang melankolis salah memahaminya. Tolong, melankolis memang berperasa tapi bukan peramal atau psikolog. Keuntungannya, melankolis punya segudang kesabaran. Ya walaupun sesak sendiri. Sudah terbiasa dan harus terbiasa.
That's about relationship between melancholic and sanguinis.


Comments

Popular posts from this blog

Fungsi Agama dalam Kehidupan Modern

It's my 18'th Birthday

Kekangan Basisdata