Hendaklah Berkata yang BAIK atau DIAM


Tak semua..
Tak seluruhnya kuceritakan tentang diriku. Ada hal-hal yang aku anggap orang lain tak mengerti akan diriku. Atau aku bercerita namun mereka mengabaikan. Ya seperti itulah terkadang orang yang kamu percaya menanggapi yang seindah harapanmu. 'Harapan' ya seperti itulah pahitnya berharap. Hanya bersimpuh kepadaNya engkau akan puas bercerita. Hingga air mata tidak sekedar di pelupuk mata. Dan tak jarang hingga menyentuh dada.
Ketika harimaumu meluap luap, rasanya sangat ingin mengeluarkan tusukan. Namun, semakin kesini aku semakin sadar. Bahwa tusuka bukanlah hal yang membangunkan. Diam... Sepertinya itu merupakan solusi terbaik.
Sepertinya daun tak pernah membenci angin ketika ia dijatuhkan. Mungkin aku harus belajar dari hal itu. Sejatuh jatuhnya dirimu, kamu akan tetap hidup tanpa menyalahkan tusukannya. Namun, tolong biarkanlah air mata mengalir hingga aku dapat berdiri kuat tanpa uluran tangan.
Aku terkadang benci dengan kata-kata 'cengeng', Apakah ibumu ketika menangis itu bisa dikatakan cengeng? Nyatanya perempuan menangis untuk menutupi rasa amarahnya yang begitu ingin menusuk. Namun ia terlalu sungkan menyakiti orang yang dirasa berharga dalam hidupnya.
Semakin kesini, aku semakin sadar ketika kecewa hal yang paling terbaik diam. Diam sampaaaaiiiii hati ini dapat bangun kembali. Nyatanya hal itu tak semudah itu.. Menahan amarah dengan rasa diam rasanya seperti menusuk diri sendiri. Tapi lebih baik dibanding menusuk orang lain :)
Bismillah..

0 komentar:


up