Karna Kau

"Aku kira, setiap penulis yang jujur, akhir-kelaknya akan kecewa dan dikecewakan." 



Langkah ini pernah kecewa. Beberapa kali. Kau tahu langkah mana yang paling menyakitkan? Tertusuk prinsip dan tertusuk sesuatu yang paling kubenci. Lebih baik menunggu sekian tahun dibanding langkah penuh kebencian. Ditambah kau tak menoleh salah sedikitpun. Kemungkinan terlalu banyak tertawa hingga hati mati atau hal itu yang membuat keras hati. Yang mana? Cukup.

Malam dan Pantai

Malam dan Pantai. Sekedar membayangkan saja sudah membuat hati terkoyak terbawa angin imajinasi. Berjalan diantara kekayuan dan pasir disela jari jemari. Angin yang tak pernah ragu untuk menusuk kulit menambah dingin yang sadis. Berjalan menunduk untuk mengurangi terpaan angin dan menengadah ketika menghentikan langkah. Aku tak sendiri. Ombak, angin, bintang, rembulan dan semilir suara kapal yang terkadang terdengar cukup untuk menemani hati yang mengambang penuh kesakitan. Biarkan dahulu aku menetap di pantai sebelum kembali kelautan. Tolong gulung kembali ketika pagi memeluk bumi.

“karena ombak tak pernah berencana untuk menetap di pantai, ia selalu kembali bergulung ke lautan” 



Aku hanya berjalan sebentar, karna malam dan pantai hal yang paling menyejukan ketika susana tenang terasa hilang. Berjalan disela pasir halus yang memeluk jemari kaki, angin yang kuhirup lekat hingga kuhembuskan perlahan, mata yang berbinar karna ketenangan ini Dia yang membuat. Kesunyian malam yang tak pernah terbayar ketika esok tiba. Sengguk tangis pun dapat terdengar di sebrang pulau sana. Cukup mata ini berbinar, tolong jangan menjerit tolong jangan berteriak. Kenyataannya hati ini kuat dan hanya ingin mendengar serta merasakan lirih-lirih pantai sebelum dipeluk kembali oleh ombak.

Ia tidak ingin menjerit-jerit berteriak-teriak mengamuk memecahkan cermin membakar tempat tidur. Ia hanya ingin menangis lirih saja sambil berjalan sendiri dalam hujan rintik-rintik di lorong sepi pada suatu pagi.” 

Banyak penulis bilang, menulis itu cara penyampaian perasaan melalui kata selain berbicara lantang. Karna kalbumu tak selalu dapat teriak melalui mulut. Ketika mulut tak bisa bicara, biarlah uraian kata yang bicara.

“Menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa—suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah di mana. Cara itulah yang bermacam-macam dan di sanalah harga kreativitas ditimbang-timbang.” 




Keep Smiling :)


Manusia tak pernah tahu dengan segala bebatuan yang ada di depan kehidupannya.
Namun, bebatuan tersebut bukan sengaja untuk melempar, tapi untuk belajar agar kita menyeimbangkan ketika ingin jatuh. Atau bangkit ketika memang  sudah terlanjur jatuh. Begitulah kehidupan yang misterius :)


I'm Lost


Malam lebih terlihat
Kemana siang hari?
Ntahlah
Mungkin matahari sedang tak berpihak
Atau mungkin tak memihak?
Hingga terjebak dalam gulita

Drama : Descendants Of The Sun

                            www.dramafever.com


up